By: Rahmawati Sahing

Rabu, 19 September 2012

Akibat Mules di Tengah Malam

Jam udah menunjukkan pukul 03.02 dinihari ketika aku menulis postingan ini.
Sejam yang lalu aku terbangun karena perut yang mules-mules. Padahal mata masih pengen banget tertutup rapat tapi apa daya perut tak membolehkan. Mungkin karena tadi kebanyakan makan tahu tek yang bumbu kacangnya kepedesan dan membuat perut ini tak mampu bertahan akibat serangan pedes itu. Aku buang air besar bahkan sampai tiga kali. Keluar masuk WC gitu, deh! Untung tadi baru jam 2 pagi, jadi di WC gak perlu ngantri dulu (biasa… WC anak kost-kostan). Aku ngebayangin seandainya tadi mulesnya perutku kayak gitu dan mesti ngantri pula di depan WC dengan keringat dingin yang bercucuran karena harus menahan pup.
Setelah tiga kali buang air besar tadi dan merasakan kalo perut ini sepertinya bermasalah, aku segera memberikan si perut ini dengan pertolongan pertama. Aku mencari obat mencret yang dikasi mama beberapa minggu yang lalu sebagai persiapan kalo sewaktu-waktu aku sakit kayak gini (Itulah asiknya punya mama yang perhatian. Makasih mama!). Setelah meminum obatnya langsung dua kapsul (begitu diperaturannya), sepuluh menit berlalu aku udah agak baikan. Perut yang tadinya mules-mules gak ketulungan akhirnya bisa agak mendingan dan berangsur-angsur membaik.
Yang menjadi masalah sekarang adalah aku malah gak bisa tidur, aku udah mencoba memejamkan mata di tempat tidur, tapi mataku malah lebih kepengen melotot daripada ditutup. Udah guling ke sana sini tapi tetep aja gak berhasil. OMG, padahal pukul 07.30 nanti aku harus masuk pagi untuk kuliah. Bisa-bisa aku malah ketiduran di kelas. Gimana dong nih?! Yup, akhirnya aku memutuskan untuk menulis posting di blog, padahal tadinya sih, kepengen main angry bird, tapi takutnya malah jadi bersemangat main dan tambah gak bisa tidur. So, nulis posting aja di blog, skalian nambah-nambahin postingan diblog yang biasanya malas aku isi kalo lagi gak mood.  Biasanya sih, kalo aku duduk depan laptop sambil nulis kayak gini, mataku perlahan-lahan akan merasakan lelah karena memandang layarnya. Dan sepertinya, usaha itu berhasil. Aku seperti terhipnotis oleh Romi Rafael. Pada hitungan 1,2,3 kamu akan merasakan kantuk yang amat sangat dan pada hitungan 4,5,6 kamu akan segera tidur. Yup, mataku udah pekat banget. Ngantuk! Oke, aku mau bobo aja deh! Selamat tidur kembali! Wkwkwkw……

Senin, 17 September 2012

Ketika harus LDR!

LDR  alias Long Distance Relationship atau bahasa Indonesianya, hubungan jarak jauh. Biasanya dilakukan oleh pasangan kekasih yang terpisah jauh karena jarak. Ya… menurutku sih, orang-orang yang menjalani hubungan seperti ini butuh persiapan mental yang kuat karena tentunya perlu kesabaran ekstra dalam menjalaninya.
Bukan perkara gampang saat aku memutuskan untuk LDR dengan pacarku yang sekarang. Aku sempat diselubungi ketakutan-ketakutan dan kekhawatiran akan berbagai hal ketika menjalani hubungan ini. Soalnya banyak orang-orang yang cerita kalo sebagian pasangan yang LDR gak setia sama pacarnya. Ya… singkatnya, sih banyakan yang ujung-ujungnya malah jadi selingkuh katanya. Ada juga yang bilang kalo pasangan yang LDR tuh, gak beda jauh kayak jomblo, gak bisa malam mingguan bareng, nonton bareng, jalan bareng dan itu bakalan menimbulkan kesirikan sama orang lain yang pacarannya gak LDR.
Setelah sedikit depresi memikirkan hal-hal menakutkan tentang LDR, akhirnya aku memutuskan untuk berkonsultasi pada orang yang menurutku cukup berpengalaman menjalani hubungan seperti ini. Dan orang itu adalah Uni, dia adalah temanku yang aku kenal saat mengikuti salah satu bimbingan belajar waktu masih SMU dulu. Ya, menurutku Uni cukup berpengalaman menjalin LDR dengan pacarnya. Dulu Uni sempat pacaran dengan seorang tentara yang ditugaskan di Aceh, sementara waktu itu dia tinggal di Makassar. Dia sukses menjalani hubungannya itu selama satu setengah tahun sebelum akhirnya dia tahu kalo ternyata tentara itu udah punya istri dan anak (wah…. wah). Trus Uni juga pernah pacaran sama kakak kelasnya di SMU yang kemudian jadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi bergengsi di Australia karena katanya dapat beasiswa, dan alhasil menjadikan mereka berdua harus LDR. Dan kali ini dia sukses menjalani hubungannya selama dua tahun sebelum akhirnya dia tahu kalo ternyata pacarnya itu udah dijodohin sama orang lain. Jadilah Uni galau berbulan-bulan sampai ia bisa move on dan melupakan mantan pacarnya itu.
Kasus kedua yang dialami Uni hampir mirip sama yang sekarang aku jalani sekarang LDR beda benua. Aku di Indonesia dan do’i di Amerika. Kesibukan dan tuntutan pekerjaan yang harus memisahkan kami berdua sampai jarak sejauh itu. Jauuuuh….banget!
Hari itu aku dan Uni janjian di KFC salah satu mall di Makassar. Aku janji traktirin dia sebagai ganti waktu Ultahku yang kemarin gak sempat mentraktir dia.
“LDR tuh,  nyiksa tau!” kata Uni sambil mencocol chiken wing-nya ke saos sambel di depannya. “ Ini pengalaman pertama kamu LDR?” tanya dia.
Aku Cuma manggut-manggut sambil makan kentang goreng ditemani segelas pepsi.
“Udah tau resikonya?” Tanya Uni lagi.
Aku manggut-manggut lagi.
“Kamu gak takut?! Kalo di sana ternyata dia selingkuh, gimana? Emangnya, kamu bisa jamin dia setia?”
“Ya, nggak taulah! Kan, dijalanin aja dulu, Ni!” jawabku ketus. Si Uni melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya dia nggak mendukungku untuk LDR-an.
“Iya, sih! Tapi kamu mesti punya persiapan mental yang cukup kuat buat  ngejalanin itu! Dan yang penting sih, kamu bisa jaga komunikasi sama do’i! Soalnya itu penting banget!”
Setelah berbincang cukup banyak dan lumayan lama disertai rasa sedikit agak kekenyangan karena meludeskan makanan yang kami pesan dengan porsi yang lumayan besar, akhirnya pertemuan kami berdua hari itu berakhir.
Uni telah memberikan nasehat-nasehatnya yang membuatnya keliatan lebih mirip nenekku ketimbang temanku. Dari nasehat dan wejangan-wejangan yang dia berikan, aku menarik beberapa point penting. Pertama, menjalani LDR perlu persiapan mental yang kuat, soalnya kesabaran bakal diuji. Kedua, menjaga rasa saling percaya. Dan ketiga, menjaga komunikasi agar tetap lancar.
Menjalani LDR emang gak gampang, butuh persiapan terutama secara psikis. Mudah-mudahan dengan melakukan segala apa yang dikasi tau oleh Uni, aku bisa tetap langgeng. Amin! Jangan sampai berakhir kayak kisah-kisahnya si Uni. Amit-amit!

Senin, 20 Agustus 2012

Idul Fitri 1 Syawal 1433 H

Kemarin, tanggal 19 Agustus 2012  umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri. Seperti biasa, di Indonesia ada banyak hal yang khas ketika merayakan lebaran. Hahaha.... Mulai dari tradisi mudik, sungkeman, silaturahmi dengan kerabat, hingga sajian makanan khas saat idul fitri tiba. Tapi kalo cerita soal lebaran sih, aku lebih suka ngobrolin soal makanan dan acara kumpul-kumpul bareng keluarga.
Buat aku, tiap kali lebaran pasti selalu ada kesan. Selain makna dari lebaran alias idul fitri itu sendiri adalah kembalinya fitrah kita sebagai manusia alias kesucian kita, juga sebagai ajang temu kangen dengan keluarga-keluarga yang lain yang biasanya susah ketemu saat bukan di hari lebaran. Yaaaa..... silaturahmi gitu. Sekalian ngingetin kita sebagai makhluk sosial yaitu makhluk yang butuh orang lain. Jadi gak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dengan orang lain di sekitar kita, oleh karena itu menjaga silaturahmi tentunya akan semakin mempererat tali persaudaraan. Jangan sampai tali persaudaraan jadi renggang gara-gara punya banyak salah sama orang lain. Makanya di moment Idul fitri ini, kita bisa saling membenahi diri, dengan saling memaafkan antar sesama manusia.
Seneng banget rasanya, di lebaran kali ini bisa ngumpul bareng keluarga. Hehehe.... Nah, biasanya kalo ngobrolin soal kumpul-kumpul pasti gak lepas dari yang namanya makanan. Yup, kalo dikeluargaku sih, biasanya kalo lebaran hidangan wajibnya adalah ketupat dan opor ayam (hidangan standar masyarakat Indonesia pada umumnya). Mantap.... maknyosss!!!
Setelah sebulan berpuasa, nahan lapar, haus, dan emosi, rasanya nikmat banget rasanya di hari kemenangan. Kita ngerasa bener-bener jadi juara, jadi pemenang.... (ya... kalo ngerjain puasanya itu sungguh-sungguh). Satu hal yang perlu untuk    disyukuri sebab itu juga sebagai penanda bahwa Tuhan masih memberikan kita kekuatan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.

SELAMAT IDUL FITRI 1433 H, minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin.